Mimpi Seorang Pengkader Tua

Posted November 26, 2009 by gaudiuminveritate
Categories: Uncategorized

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

- totalitas perjuangan

***

Hari ini saya membaca facebook notes seorang adik kelas saya di Indonesia. Dia menulis tentang praktek black campaign dalam pemilihan ketua senat. Saya merasa terhibur dan tertawa-tawa karena tulisan itu. Menurut saya, poin-poin black campaign yang dijabarkan dalam karangan tersebut sangatlah konyol. Betapa konyolnya mereka yang masih ribut-ribut soal interaksi dengan orang yang berbeda agama dan mempermasalahkan keterampilan orang lain berorasi di muka publik! Bukankah hal-hal bodoh seperti ini seharusnya terjadi di kalangan mahasiswa yang mengaku sebagai (calon) kaum intelektual?

Beberapa saat kemudian saya tersadar dari gelak tawa saya (saya tertawa terpingkal-pingkal sehabis membaca karangan ini). Saya tiba-tiba tersadar dan merasa tertegur. Apakah ini cara pikir yang kami, para pengkader mereka di dunia kemahasiswaan, contohkan pada mereka? Apakah nilai – nilai seperti ini yang secara sadar atau tidak sadar kami tanamkan dalam benak mereka? Tawa mengejek di wajah saya pun berubah menjadi senyum kecut.

***

Sebagai seorang pengkader yang bertugas membentuk sebuah generasi, saya pun punya sebuah mimpi. Saya punya mimpi untuk membentuk sebuah generasi yang akan bangkit membawa pengaruh positif (setidaknya) di dalam lingkup dunia kampusnya. Inilah mimpi saya, mimpi seorang pengkader tua.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa yang bisa mengambil keputusan dengan prinsip – prinsip yang dewasa. Mereka harus berani menyatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Mereka harus bisa menimbang dengan neraca moral, bukan dengan neraca untung atau rugi, kristen atau islam, jawa atau tionghoa, atau pertimbangan-pertimbangan praktis lainnya. Mereka harus bisa menilai seseorang tanpa terpengaruh oleh afiliasinya, agamanya, sukunya, atau keturunannya. Penilaian satu-satunya yang dipakai adalah benar atau salah, jujur atau maling, mampu atau tidak mampu.

Setiap tahun datang sekumpulan remaja ingusan sekolah menengah. Saya tidak mau mereka jadi sekumpulan tukang nyontek dan bolos yang rajin berkoar tentang moral generasi muda. Saya tidak mau mereka jadi mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan namun menindas bila berkuasa. Saya tidak mau mereka jadi mahasiswa berpikiran sempit yang hanya mementingkan golongan, agama, dan kumpulannya.

Apakah barangkali mimpi saya ini terlalu luks dan muluk-muluk? Ataukah mimpi saya ini hanya belum waktunya terlaksana menjadi realita?

“Evan Brimob”, “Rio Dokter”, dan Arogansi Profesi

Posted November 9, 2009 by gaudiuminveritate
Categories: Uncategorized

Dengan iman teguh ikhlas

G’lorakan kebenaran dan keadilan

Jiwa pengabdianku

Lindungi ayomi layani masyarakat

Bhayangkara Jaya

Mars POLRI

Saya termasuk orang yang simpatik pada TNI-POLRI karena saya sempat menimba ilmu di sekolah milik TNI dan banyak teman saya yang memilih bergabung dengan POLRI. Menurut saya, TNI-POLRI adalah institusi yang sangat vital untuk bangsa ini. Tugas mereka menjaga kedaulatan republik ini dan mengayomi masyarakat sangatlah mulia. Saya pun sempat kagum dengan mental-ideologi mereka yang “Indonesia banget”.

“Evan Brimob”

Beberapa minggu belakangan ini, dunia maya Indonesia dihebohkan oleh seorang bernama “Evan Brimob”. Evan Brimob jadi artis kaskus karena tulisannya di sebuah situs jejaring social. Saya rasa tulisan Evan Brimob di salah satu situs tersebut sangatlah tidak dewasa serta didasari oleh emosi sesaat dan pemikiran yang dangkal. Di situs tersebut Evan Brimob menulis “polri nggak butuh masyarakat tapi masyarakat yang butuh polri”.

posting Evan Brimob di Facebook

posting Evan Brimob di Facebook

Benar-benar arogan oknum polisi ini. Rasa simpati saya pada POLRI pun luntur seketika. Saya pun sempat berharap berdoa supaya dia segera diberhentikan secara tidak hormat dari dinas Kepolisian Republik Indonesia.

Aksi Evan Brimob menuai kecaman dan (menurut saya) sukses besar mencoreng citra POLRI di mata masyarakat dunia maya. Konon ia sudah dipanggil dan diperiksa kesatuan sebagai akibat dari ulahnya ini. Kasihan benar nasib oknum polisi ini, andai saja ia berpikir dahulu sebelum bertindak…

“Rio Dokter” dan Arogansi Profesi

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Kata society yang diterjemahkan sebagai “masyarakat” berasal dari bahasa latin, societas yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

Bila kita gunakan definisi di atas untuk menganalisa pemikiran Evan Brimob yang dituangkan lewat tulisannya di facebook, maka tampak jelas bahwa dia tidak menyadari konsep interdependensi yang melandasi hubungan masyarakat-POLRI. Menurut saya, tulisannya adalah suatu bentuk dari arogansi profesi. Gampangnya, saya anggap dia sombong karena bisa jadi Brimob.

Menurut saya arogansi profesi adalah suatu hal yang konyol. Menganggap diri sendiri dan profesinya paling hebat adalah tindakan yang menurut saya sangat childish. Memang benar bahwa Evan Brimob ahli di bidang ke-Brimob-an, namun seberapa jago sih dia di bidang kedokteran dibanding “Rio Dokter”? Seberapa kompeten sih dia di bidang ekonomi dibanding “Sri Mulyani Mentri”?

Lalu manakah yang lebih penting, “Evan Brimob”, “Rio Dokter”, atau “Sri Mulyani Mentri”? Menurut saya, semuanya penting dan punya peran dan fungsinya masing-masing di dalam masyarakat. Menurut saya, yang menentukan signifikansi “Evan Brimob”, “Rio Dokter”, atau “Sri Mulyani Mentri” dalam masyarakat adalah kompetensi atau ke-becus-an dalam melaksanakan fungsinya masing-masing.

Jika Evan Brimob bisa berkoar bahwa “polri nggak butuh masyarakat tapi masyarakat yang butuh polri”; maka saya pun bisa mengganti profile name saya menjadi “Rio Dokter” dan berkata “dokter nggak butuh masyarakat tapi masyarakat yang butuh dokter”. Tapi saya tidak akan melakukannya, karena saya yakin bahwa saya pun bagian dari masyarakat (society) yang masih sangat tergantung dengan komponen lain dalam masyarakat.

Akhir kata, apa pun profesi anda, mau “rio dokter” kek.. “Evan Brimob” kek.. “Sri Mulyani Mentri” kek.. “Susilo Presiden” kek.. jangan sekali-kali sombong akan  profesi kita, ingatlah bahwa kita semua saling membutuhkan dan harus saling membantu demi kemajuan bangsa dan negara ini.

Siapakah Saya?

Posted October 19, 2009 by gaudiuminveritate
Categories: Uncategorized

A man is as he thinks, you can’t change it

Hari – hari ini saya banyak menghibur diri dengan perhatian pada holocaust dan Perang Dunia II. Saya menemukan sebuah film Cekoslovakia yang berjudul “…a paty jezdec je stach” (and the fifth rider is fear). Berlatar belakang pendudukan Nazi di Cekoslovakia, film ini mengisahkan tentang manusia dan ketakutannya.

Kisahnya tentang dr Braun, seorang dokter yahudi yang dilarang berpraktek di Praha semasa pendudukan Jerman. Oleh nazi dia dipekerjakan sebagai penjaga gudang barang rampasan. Suatu hari dia diminta menolong seorang partisan (gerilyawan cekoslovakia) yang tertembak dan disembunyikan dekat apartment-nya. Pada awalnya dokter ini menolak karena tahu apa akibatnya jika ia ketahuan oleh pihak nazi.

I’m not a doctor; I’m only a warehouse clerk. That’s not my job to help him”, katanya. Namun dia tidak dapat membohongi kata hatinya, bahwa ia seorang dokter (walaupun dilarang berpraktek) dan adalah kewajibannya untuk menolong siapa pun juga. Kesadaran dokter tersebut akan naturnya sebagai seorang tenaga medis akhirnya mengalahkan ketakutannya, ia pun memutuskan untuk menolong partisan itu.

Tidak melaporkan sesuatu yang mencurigakan adalah suatu kesalahan bagi otoritas nazi di Cekoslovakia. Karena takut dihukum, seorang tetangganya melaporkan dr Braun kepada otoritas nazi. Sang dokter ditangkap dan diintrogasi. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjawab dengan sangat sederhana: “a man is as he thinks, you can’t change it”.

***

Sebagai manusia kita senantiasa dihadapkan kepada pilihan – pilihan yang meragukan. Sebelum memutuskan, hendaknya kita bertanya pada diri kita sendiri: “siapakah saya?”. Jawaban kita terhadap pertanyaan tersebut akan menentukan pilihan-pilihan yang kita buat.

Dr Braun pun mesti menjawab pertanyaan besar ini. Jika ia menyatakan dirinya adalah seorang penjaga gudang, maka membiarkan partisan itu mati adalah benar. Demikian juga tetangganya yang melapor pada polisi. Bila ia memutuskan dirinya hanyalah warga yang harus patuh pada pemerintah nazi, maka tindakannya adalah salah. Tetapi bila ia menyatakan bahwa dirinya adalah orang Cekoslovakia yang harus membantu perjuangan bangsanya, tentu ceritanya akan berubah. Intinya, kitalah yang menentukan siapa diri kita dalam menentukan pilihan-pilihan.

***

“Silahkan anda semua bertahan dengan prinsip anda masing2 dan anda semua patut bangga dengan hal itu, maka bersiaplah untuk terasing dari dunia yang kejam ini, karena dunia ini udah gak indah lagi dan banyak hal yang menuntut kita untuk bertindak “tricky” untuk bertahan hidup.. di jaman sekarang ini, idealisme dan individualisme sudah tidak ada nilainya terlebih di negara kita ini.. dan saya rasa bertindak lebih flexible terhadap keadaan sekeliling akan membantu anda untuk berkembang di dunia yang jahat ini..”

Kutipan di atas adalah kata-kata seorang teman saya yang ditulisnya kira-kira setahun yang lalu. Ia telah menjawab siapakah dirinya. Dia telah memutuskan bahwa dirinya adalah seorang yang kesulitan untuk sekedar survive di tengah dunia yang jahat. Dan manifestasi dari pemikiran tersebut adalah tindakan tricky dan flexible.

Secara samar-samar tampak ketakutan yang begitu besar akan keadaan dunia sekarang ini. Keadaan  dan ketakutan sering sekali menjadi pembenaran atas tindakan. Kepengecutan dirasionalisasi sebagai kepatuhan. Kemalasan dirasionalisasikan sebagai kesulitan kondisi hidup. Saya sering bingung kenapa orang dengan begitu mudahnya merasionalisasikan keadaan…

***

Kadang-kadang kita bertanya pada diri kita sendiri: “siapakah saya?”. Apakah saya seorang remaja yang kebetulan menjadi mahasiswa? Apakah saya seorang manusia yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi prinsip serta tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang supaya bisa survive harus selalu patuh pada sistem yang berlaku di lingkungan saya, meskipun sistem tersebut salah? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar hidup dan berusaha untuk terus menjadi kritis dalam segala situasi?

Setiap hari pertanyaan itu datang. Saya katakan pada diri saya, bahwa saya ini seorang manusia bebas dan bukan alat siapa pun. Kesadaran saya akan identitas saya inilah yang memberi saya keberanian untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip saya dan mengalahkan ketakutan.

Sadarilah natur anda dan bertindaklah sesuai dengan natur tersebut.

(BUKAN) Mantan Aktivis

Posted October 13, 2009 by gaudiuminveritate
Categories: Uncategorized

Tags:

Dalam suatu latihan pemuridan yang diselenggarakan oleh persekutuan kampus saya, seorang alumni pernah bercerita tentang beberapa mantan aktivis persekutuan kampus yang saat ini telah berpindah kepercayaan. Alasannya beragam. Ada yang menjadikan pasangan hidup sebagai alasan, ada pula yang melakukannya demi gelar konsulen.

Fenomena yang cukup menarik, karena yang convert bukanlah mereka yang tidak datang persekutuan atau mereka yang suka bolos kelompok kecil. Yang berganti kepercayaan adalah para aktivis persekutuan pada masanya! Mungkin mereka dulunya adalah pemimpin persekutuan, orang yang dijadikan panutan, bahkan mungkin sempat memuridkan orang dalam kelompok kecil. Yang paling ironis adalah bahwa kisah ini nyata dan benar-benar terjadi!

Do your best to come to me quickly, for Demas, because he loved this world, has deserted me and has gone to Thessalonica. 2Tim004.9-10//niv

Ketika saya mendengar cerita tentang para mantan aktivis ini, yang terlintas di pikiran saya adalah kisah hidup seorang bernama Demas. Demas adalah rekan sepelayanan rasul Paulus. Demas sempat ada bersama dengan rasul Paulus pada saat Paulus dipenjarakan di Roma. Dalam surat Filemon Demas bahkan disebutkan lebih dahulu daripada Lukas, penulis injil dan kitab kisah para rasul. Demas kembali dicatat Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose.

Namun pada saat-saat terakhir hidupnya, Paulus menulis bahwa “Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku”. Demas yang sempat menjadi seorang ‘Kristen kelas kakap’, meninggalkan sang rasul demi alasan yang patut dipertanyakan.

Saya banyak berpikir tentang Demas setelah mengetahui cerita hidupnya. Mungkin kebanyakan kita tidak terlalu ‘familiar’ dengan Demas. Sekalipun sempat senasib dengan Paulus dan Lukas, Demas tidak tercatat sebagai tokoh penting dalam dunia perjanjian baru. Mungkin Tuhan bisa pakai Demas lebih lagi, namun Alkitab dan sejarah gereja akhirnya mencatat dia sebagai orang yang lebih mencintai dunia, seorang ‘mantan aktivis’ gereja.

For I am already being poured out like a drink offering, and the time has come for my departure. I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith. 2Tim004.6-7//niv

Meskipun saya bicara soal apa yang dicatat tentang Demas, sesungguhnya tercatat atau tidaknya seseorang dalam sejarah gereja bukanlah hal yang terutama. Sama halnya, bagaimana kita diingat oleh persekutuan kampus kita bukanlah hal yang terpenting. Yang terpenting adalah kita mengakhiri hidup kita dengan baik, yaitu hidup yang dengan menjalankan misi yang telah Tuhan berikan dengan tetap memelihara iman. Jangan biarkan kecintaan kita akan dunia menghambat kita untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita.

But you will receive power when the Holy Spirit comes on you; and you will be my witnesses in Jerusalem, and in all Judea and Samaria, and to the ends of the earth. Acts001.8//niv

Tuhan mengutus kita untuk menjadi saksiNya di tengah-tengah dunia. Kita mungkin sudah berhasil ‘taat dan setia’ semasa siswa dan mahasiswa. Namun setelah lulus dari perguruan tinggi, akankah kita tetap memelihara iman dan menjalankan misi yang dari Tuhan? Ataukah kita malah menjadi seorang ‘mantan aktivis’?

Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

***

The world does not need a new medicine: it needs doctors who know how to pray and obey God in their own lives. In such hands medicine, with all its modern resources, will bring forth fruits in abundance.

- Paul Tournier, MD