Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia
- totalitas perjuangan
***
Hari ini saya membaca facebook notes seorang adik kelas saya di Indonesia. Dia menulis tentang praktek black campaign dalam pemilihan ketua senat. Saya merasa terhibur dan tertawa-tawa karena tulisan itu. Menurut saya, poin-poin black campaign yang dijabarkan dalam karangan tersebut sangatlah konyol. Betapa konyolnya mereka yang masih ribut-ribut soal interaksi dengan orang yang berbeda agama dan mempermasalahkan keterampilan orang lain berorasi di muka publik! Bukankah hal-hal bodoh seperti ini seharusnya terjadi di kalangan mahasiswa yang mengaku sebagai (calon) kaum intelektual?
Beberapa saat kemudian saya tersadar dari gelak tawa saya (saya tertawa terpingkal-pingkal sehabis membaca karangan ini). Saya tiba-tiba tersadar dan merasa tertegur. Apakah ini cara pikir yang kami, para pengkader mereka di dunia kemahasiswaan, contohkan pada mereka? Apakah nilai – nilai seperti ini yang secara sadar atau tidak sadar kami tanamkan dalam benak mereka? Tawa mengejek di wajah saya pun berubah menjadi senyum kecut.
***
Sebagai seorang pengkader yang bertugas membentuk sebuah generasi, saya pun punya sebuah mimpi. Saya punya mimpi untuk membentuk sebuah generasi yang akan bangkit membawa pengaruh positif (setidaknya) di dalam lingkup dunia kampusnya. Inilah mimpi saya, mimpi seorang pengkader tua.
Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa yang bisa mengambil keputusan dengan prinsip – prinsip yang dewasa. Mereka harus berani menyatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Mereka harus bisa menimbang dengan neraca moral, bukan dengan neraca untung atau rugi, kristen atau islam, jawa atau tionghoa, atau pertimbangan-pertimbangan praktis lainnya. Mereka harus bisa menilai seseorang tanpa terpengaruh oleh afiliasinya, agamanya, sukunya, atau keturunannya. Penilaian satu-satunya yang dipakai adalah benar atau salah, jujur atau maling, mampu atau tidak mampu.
Setiap tahun datang sekumpulan remaja ingusan sekolah menengah. Saya tidak mau mereka jadi sekumpulan tukang nyontek dan bolos yang rajin berkoar tentang moral generasi muda. Saya tidak mau mereka jadi mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan namun menindas bila berkuasa. Saya tidak mau mereka jadi mahasiswa berpikiran sempit yang hanya mementingkan golongan, agama, dan kumpulannya.
Apakah barangkali mimpi saya ini terlalu luks dan muluk-muluk? Ataukah mimpi saya ini hanya belum waktunya terlaksana menjadi realita?
